![]() |
| [foto:2i2h.multiply.com] |
SEJAK saya masih di bangku kuliah, sering terngiang pertanyaan di benak saya: Mungkinkah saya menjadi seorang muslim yang baik atau taat, tanpa harus memusuhi atau membenci kawan-kawan saya yang nonmuslim?
Sebab, dari pengamatan saya ketika mendengarkan ceramah atau khutbah, sebagian ustad justru mengajarkan kebencian atau permusuhan kepada orang-orang di luar agama Islam, padahal kondisi sehari-hari tidak dalam situasi perang.
Jadi, bila merujuk ustad tadi, sepertinya saya hanya mungkin menjadi muslim yang baik jika pada saat bersamaan bisa membangun tembok pembatas yang tegas dengan mereka yang tidak memeluk agama Islam.
Sejalan dengan itu, kenyataan hidup yang saya lihat sehari-hari kadang juga memperlihatkan: bahwa orang-orang Islam yang bisa bergaul akrab dengan kelompok nonmuslim seolah-olah hanya mereka yang justru mengabaikan ajaran agamanya sendiri. Dengan kata lain, bukan seorang muslim yang taat, alias hanya “Islam KTP” saja.
Pertanyaan itu mendorong saya untuk terus mencari tahu. Jika benar untuk menjadi muslim yang baik (taat) harus “bersikap tidak baik” kepada saudara-saudara kita yang nonmuslim, untuk apa Tuhan membiarkan ada banyak agama di luar Islam?






