09 Agustus 2010

Menjadi Muslim Tanpa Membenci Non Muslim


[foto:2i2h.multiply.com]
SEJAK saya masih di bangku kuliah, sering terngiang pertanyaan di benak saya: Mungkinkah saya menjadi seorang muslim yang baik atau taat, tanpa harus memusuhi atau membenci kawan-kawan saya yang nonmuslim?

Sebab, dari pengamatan saya ketika mendengarkan ceramah atau khutbah, sebagian ustad justru mengajarkan kebencian atau permusuhan kepada orang-orang di luar agama Islam, padahal kondisi sehari-hari tidak dalam situasi perang.

Jadi, bila merujuk ustad tadi, sepertinya saya hanya mungkin menjadi muslim yang baik jika pada saat bersamaan bisa membangun tembok pembatas yang tegas dengan mereka yang tidak memeluk agama Islam.

Sejalan dengan itu, kenyataan hidup yang saya lihat sehari-hari kadang juga memperlihatkan: bahwa orang-orang Islam yang bisa bergaul akrab dengan kelompok nonmuslim seolah-olah hanya mereka yang justru mengabaikan ajaran agamanya sendiri. Dengan kata lain, bukan seorang muslim yang taat, alias hanya “Islam KTP” saja.

Pertanyaan itu mendorong saya untuk terus mencari tahu. Jika benar untuk menjadi muslim yang baik (taat) harus “bersikap tidak baik” kepada saudara-saudara kita yang nonmuslim, untuk apa Tuhan membiarkan ada banyak agama di luar Islam?

Ketika Cinta Tidak Sempurna (#1)


[foto: www.rajacraft.com]

kau begitu sempurna
di mataku kau begitu indah
kau membuat diriku
akan selalu memujamu
(Sempurna, Andra and the Backbone)

SERING  terjadi, tatkala kita ingin memiliki seorang kekasih atau soulmate (pasangan hidup), kita sibuk menyusun serangkaian kriteria yang harus dimiliki calon yang dikehendaki. Sementara kita sendiri, pada saat yang sama, justru menuntut orang yang kita cintai agar bisa menerima diri kita apa adanya, total, tanpa syarat.

Memang begitulah kecenderungan manusia. Sebab, pada dasarnya, setiap orang tampaknya ditakdirkan untuk lebih mencintai dirinya sendiri sebelum dapat mencintai orang lain. Dengan kata lain, kita adalah makhluk egois atau egosentris: makhluk yang selalu mengukur segala sesuatu dari subyektivitas pribadi atau ego sendiri.

Namun, ironisnya, ketika kita sejak dini sibuk menetapkan kriteria yang muluk-muluk atau serba sempurna, seringkali hasil akhirnya justru tidak sempurna, alias hanya menuai kecewa. Mengapa?

Mungkin karena secara psikologis kita telanjur over-estimate, atau terlalu mengharapkan adanya kesempurnaan pada orang yang dicintai, akhirnya kita malah menjadi terlalu sensitif terhadap segala kekurangan atau kelemahannya. Akibatnya, tidak jarang hal-hal sepele atau kecil pun kita besar-besarkan, sehingga menyebabkan percekcokan atau perpisahan.

Sikap kelewat perfeksionis, yang nyaris tidak bisa menoleransi sedikit pun kelemahan pasangan, juga menunjukkan bahwa kita kurang bisa mensyukuri segala kelebihan orang yang kita cintai. Dalam bahasa agama, sikap demikian bisa disebut “kufur nikmat”. Maksudnya, sebuah sikap yang mengingkari segala kenikmatan yang mungkin telah diberikan Tuhan melalui diri orang yang kita cintai.

Ketika Cinta Tidak Sempurna (#2)


[foto: salazad.com]
DENGAN calon pasangan hidup yang kriterianya tidak sesempurna yang kita harapkan, mungkinkah kita bisa meraih kesempurnaan hasil? Dalam arti mendapatkan hubungan yang membahagiakan, rumah tangga bahagia, atau istilah agamanya: mencapai keluarga sakinah mawaddah warohmah?

Menurut saya, asal saja kita mau menyadari ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, dan sekaligus dapat memahami atau menerima ketidaksempurnaan calon soulmate kita dengan ikhlas, insya Allah sangat mungkin akhirnya dapat meraih sukses atau kesempurnaan berumah tangga. Betapapun awalnya boleh jadi tidak dimulai dengan kriteria pasangan yang tidak sempurna tadi.

Mengapa? Sebab jika kita memaklumi bahwa sebagai makhluk kita tak lepas dari kekurangan, tentunya juga tidak akan mengungkit-ungkit kekurangan pasangan kita. Justru dengan menyadari adanya potensi keterbatasan dalam diri tiap orang, menikah atau memiliki pasangan hidup harusnya menjadi wahana menyinergikan potensi atau kelebihan masing-masing, sembari saling melengkapi kekurangan yang ada.

Palestina Oh Palestina


MELIHAT kebrutalan demi kebutralan rezim zionisIsrael Israel, membuat aku merasa lelah dan jenuh. Sebab, sejak SMP, aku sudah akrab dengan berita seperti itu. Tetapi, sejak saat itu hingga hari ini, rasanya tak satu pun pelanggaran HAM tersentuh hukum.

Tiap kali ada upaya menjatuhkan sanksi PBB kepada Israel, negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS), buru-buru mementahkannya dengan hak veto . Memang begitulah standar ganda atau hipokrisi ala Amerika.

Maka dari itu, kadang aku pun tak ingin mendengar berita seperti itu lagi. Aku ingin mematikan TV atau memalingkan muka, ketika muncul berita kekejaman atas bangsa Palestina. Aku ingin menutup mata dan telinga, ibarat seseorang hendak mengubur dalam-dalam kenangan pahit masa lalunya.

Sebab wajah-wajah balita, ibu-ibu hamil atau tua renta, dan orang-orang biasa, yang bersimbah darah akibat peluru serdadu Israel itu, terus membayang di pelupuk mataku. Mereka hanya sebagian kecil dari ratusan korban pembantaian Sabra-Shatila, penembakan remaja pelaku intifadah, hingga penyerangan kafilah kemanusiaan ke Gaza baru-baru ini. Entah, tragedi Palestina ini sampai kapan akan terus terjadi.

Aku ingin berteriak dan melawan itu semua, tetapi kenyataannya aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa bertanya-tanya sendiri, atau kadang menggugat dalam hati, meminjam kata-kata Isa Al Masih: Eli Eli lama sabakhtani…Tuhan, Tuhan, mengapa Kaubiarkan semua itu terjadi? Apakah Engkau sekarang tak berdaya dan tak Mahakuasa lagi? Apakah Tuhan juga terjebak konspirasi lobi Yahudi pro-Israel, seperti nyaris dialami semua petinggi adikuasa Amerika?

SBY, Obama, dan Lobi Yahudi


obama merangkul mesra
pemimpin lobi yahudi amerika pro-israel, aipac 
[foto:sydwalker.info]
ZIONISME yang melahirkan negara Israel adalah ideologi paranoid dan rasis, mirip Naziisme yang dikembangkan Adolf Hitler di Jerman menjelang Perang Dunia II. Itulah sebabnya, baik Naziisme maupun Zionisme, sama-sama menghasilkan kejahatan bagi kemanusiaan (crime against humanity) yang sangat memilukan.

Hitler dengan Nazinya membangun kamp konsentrasi dan melakukan holocaust untuk melenyapkan ribuan orang Yahudi di seantero Eropa. Orang-orang Yahudi menjadi korban genosida (pembantaian etnis), karena dianggap sebagai penyakit masyarakat dan dikhawatirkan mencemari kemurnian ras unggulan, ras aria Jerman, yang bermata biru dan berambut jagung.

Sementara Israel berkali-kali melakukan pembantaian massal atas ribuan penduduk Palestina, dan sekarang memenjarakan 1,5 juta warga Palestina, laki-laki, perempuan, tua muda, di tanah miliknya sendiri: Gaza. Warga Palestina, baik Muslim maupun Kristen, diusir dan dibantai, karena dianggap mengganggu cita-cita bangsa Israel menguasai dan memperluas “tanah terjanji” bagi kaum Yahudi.

Hitler  membangun poros kekuasaannya dengan menjalin aliansi strategis dengan rezim fasis Jepang, Italia, dan Spanyol. Sementara Israel membentuk aliansi segitiga, dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya. AS adalah pengawal setia zionisme Israel, siapa pun pemimpin atau partai yang tengah berkuasa di negeri Paman Sam itu.

Ketika Kita Macet Menulis

[ilustrasi: jskompani.no]
SEPANDAI dan seproduktif apa pun, seorang penulis atau pengarang, suatu saat tentu pernah mengalami kondisi kebuntuan atau macet menulis. Memang, pada saat seperti ini, bisa saja ia memaksakan diri menulis, namun hasilnya sering tidak memuaskan atau berada jauh di bawah standar yang diharapkannya.

Jika tidak demikian, seringkali tulisannya malah berhenti di tengah jalan. Baru satu atau dua paragraf macet, dan ia kelimpungan, tidak tahu ke arah mana tulisannya akan dilanjutkan. “Sedang kehabisan bahan,” begitu alasan klise yang biasanya dikemukakan. Atau bisa juga, “Lagi nggak ‘mood’ menulis.”

Mengapa Terjadi?

Kondisi “kehabisan bahan” acap muncul bila seorang penulis sangat produktif menulis, namun enggan mengimbangi dengan aktivitas membaca. Membaca di sini tidak hanya dalam arti harfiah, seperti membaca buku, jurnal, koran, atau media online, namun juga membaca “ayat-ayat yang terhampar” atau fenomena sosial dan alam sekitar. Dalam istilah para aktivis Islam, yang terakhir lazim dikenal sebagai tadabur alam.

08 Agustus 2010

Pelajaran Pertama Calon Penulis

APA yang perlu dilakukan pertama kali agar bisa menjadi pengarang atau penulis yang bagus? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka jawaban saya sangat jelas: membaca.

Mungkin sebagian Anda akan memprotes saya. Bagaimana mungkin, orang mau belajar menulis, kok malah diminta membaca? Tapi, memang, begitulah yang juga diresepkan oleh banyak pengarang atau penulis besar. Setidaknya, para penulis yang saya baca buku-bukunya.

Membaca memberi kesempatan kepada otak kita menyerap berbagai informasi berharga. Sejak penguasaan kosa kata dan tata bahasa yang bersifat teknis kepenulisan, hingga materi-materi pengetahuan umum yang lebih substansial sifatnya.

Ibarat baterai, membaca adalah fase awal untuk men-charge daya dukung otak kita. Dengan membaca, secara sadar ataupun tidak, kita melakukan proses input atau fooding untuk mengoptimalkan potensi kecerdasan kita. Otak yang cerdas saja, tanpa pernah diberi pasokan informasi yang memadai, ibarat mobil canggih yang tidak pernah diisi bahan bakar sehingga tak bisa melaju juga.

Belajar menulis ibarat anak kecil belajar berbicara. Sebelum bisa bicara, balita melihat dan mendengarkan dulu orang berbicara. Begitu pula jika kita ingin bisa mengarang atau menulis, perlu melihat dan membaca lebih dulu apa yang telah ditulis orang lain.