29 Desember 2009

Beratnya Menjadi Anak Muda Indonesia


"Pohon yang tumbuh di atas batu, lebih kuat batangnya." (Ali bin Abi Thalib). 

MASIH tidak mudah bagi anak muda Indonesia yang ingin memperjuangkan masa depannya sendiri sekarang ini. Inilah salah satu dampak terus eksisnya tradisi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang selama 30 tahun lebih dihidupkan oleh rezim Orde Baru. Dan hal ini terus berlangsung hingga hari ini, sepuluh tahun lebih seusai reformasi. 

Anak-anak muda yang telah bersusah payah memeras otak dan membayar mahal untuk bersekolah atau kuliah, masih harus bersusah payah kembali mencari posisinya di tengah masyarakat dan bangsanya. Selembar ijazah sarjana, ditambah pengalaman berorganisasi atau tempaan tradisi intelektual di kampus, plus beragam keahlian teknis lainnya, tidak secara otomatis menempatkan kaum muda sesuai kompetensi keilmuan atau keterampilannya. Sebab tak ada jaminan the right man on the right job, the right man on the right place. Terutama bagi mereka yang muncul dari kalangan rakyat jelata atau keluarga yang biasa saja.

27 Desember 2009

Noda di Balik Cinta yang Bertasbih (Resensi)



DARI segi penggarapan materi, novel Ketika Cinta Bertasbih (2) setebal kamus Inggris-Indonesia John M. Echols ini menarik, meski sebatas lanjutan seri novel berjudul sama. 

Menariknya, sebagai karya yang dikategorikan novel Islami, ia berani menyikapi perasaan cinta pranikah sebagai sunnatullah (natural law) alias sesuatu yang wajar dan manusiawi. Ini melawan tren umum sastra Islami versi para pegiat Forum Lingkar Pena (FLP) yang kadang mudah menghakimi rasa cinta pranikah antarsesama aktivis dakwah sebagai “virus merah jambu”.

Pengalaman Menulis di Atas Kereta


TULISAN ini kubuat di atas kereta eksekutif Argodwipangga. Kamis 14 April 2009. Kereta tengah melaju menuju Solo dari arah Jakarta. 

Ketika aku mulai menuliskan halaman ini, rangkaian gerbong baru saja melewati Stasiun Purwokerto. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 14 siang. Jadi kira-kira sudah setengah perjalanan, sejak berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta, tepat jam 8 pagi.

Aku sengaja menulis di atas kereta yang tengah berlari kencang ini karena ingin merasakan sensasi tersendiri. Kebetulan gerbong kereta eksekutif menyediakan semacam meja lipat kecil yang disembunyikan di pegangan masing-masing kursi. Meja ini biasa digunakan penumpang sebagai meja makan.

Persahabatan Unik Blasius, Tia, dan Saya


BLASIUS nama baptisnya. Tapi siapa nama lengkapnya, sampai sekarang saya belum tahu persis. Padahal kami sudah bersahabat sejak bertahun-tahun lalu. Saya terbiasa memanggilnya Bles atau Si Bles saja. Jarang memanggilnya Blasius, apalagi nama lengkapnya yang tentu lebih panjang lagi.

Saya mengenal Bles pertama kali tatkala ia masih mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogya. Saat itu, ia masih pula menyandang gelar calon pastur. Saya mengenal Bles karena ia berteman akrab dengan Tia atau Yuning, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO), yang adik kandung sahabat saya, Wahyudi Marhaen.

Awal mengetahui pertemanan Bles dan Tia, saya sempat heran. Karena dua anak muda ini berasal dari latar belakang yang berbeda tadi. Yang satu calon pastur, satu lagi muslimah berjilbab, aktivis organisasi mahasiswa Islam yang dikenal militan pada masanya. Sementara saya sendiri, selain pernah aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kala itu adalah mantan aktivis HMI Dipo yang secara organisatoris menjadi rival HMI MPO.

25 Desember 2009

Surat kepada Ibu


Oleh:
Jarot Doso Purwanto 


IBU, surat ini kutulis dengan air mata, karena aku tak lagi kuasa membeli sebotol tinta. Harga-harga sudah demikian menggila, tapi aku tak hendak minta jatah kiriman uang kepada Ibu. Biarlah kucoba zuhud: hidup sekadarnya, bahagia sebesarnya. Bukankah tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Makanlah hanya ketika lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang”, Ibu?

Apalagi aku tahu, hidup Ibu sendiri di desa pasti juga tidak mudah. Terlebih hanya Ibu yang harus bekerja mengumpulkan rezeki pemberian Allah subhanahu wa ta’ala. Almarhum Ayah sendiri –maklum cuma pegawai negeri rendahan— tak bisa mewariskan materi cukup berarti. Hanya warisan semangat untuk terus bergiat menuntut ilmu bagi anak-anaknya dan warisan agama –dua warisan yang amat berharga— yang beliau tinggalkan kepada kita.

Tapi Ibu, agama yang menguatkan kita di saat futur (kehilangan gairah hidup), agama yang menjadikan hidup kita lebih bermakna itu, kini hendak digunakan oleh sebagian umatnya untuk membelenggumu pula (istilah mereka: memuliakanmu). Membelenggumu, sebab –atas nama agama itu— sebentar lagi kau tak boleh keluar rumah di malam hari guna mengais rezeki. Engkau tak boleh bepergian selepas pukul sepuluh malam bila tidak didampingi mahram-mu.

20 Desember 2009

Lupa Blog Gara-gara Facebook....


TIAP KALI muncul fenomena baru selalu ada plus minusnya. Itu sudah pasti. Demikian pula dengan kemunculan Facebook (FB).

Sebagai penikmat layanan jejaring sosial ini sejak cukup awal, semula aku agak sulit mengajak teman-teman migrasi dari situs Friendster yang kurang user friendly ke FB. Namun belakangan ini, tatkala popularitas Facebook makin menggila, seiring promosi gencar dari para operator telepon seluler, aku malah kewalahan meladeni orang-orang baru yang minta ditambahkan sebagai teman.

Aktivitas di jejaring Facebook-ku pun semakin hari kian ramai, dan sudah bisa diduga: akhirnya cukup menyita alokasi waktu dan perhatianku. Dampak positifnya, memang aku bisa terhubung lagi dengan teman-teman lama, bisa lebih banyak pula teman-teman baru. Akan tetapi, lantaran keasyikan mengurusi Facebook, akibat negatifnya alokasi waktu dan perhatian untuk menulis di blog pun menjadi terkurangi. Walhasil, blog pun menjadi terbengkalai.

14 Mei 2009

Catatan Kecil tentang Alit


ALIT (dalam bahasa Jawa artinya kecil), begitulah teman-temannya sewaktu masih duduk di SMP Negeri 1 Yogyakarta, acap memanggil. 

Nama lengkapnya I Gusti Ngurah Alit. Ia memang keturunan Bali. Ayah Alit bekerja menjadi guru di kota Yogyakarta. Sedangkan ibunya, seingatku, hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Maka, karena harus hidup mengikuti ayah dan ibunya, jadilah Alit kecil bersekolah di salah satu SMP terfavorit di kota Yogyakarta ini. Di sekolah inilah aku bertemu dengan Alit dan kemudian menjadi sahabatnya, untuk waktu yang lama.

10 Mei 2009

Kembali ke Senayan, Kembali Menulis...


KAMPANYE yang amat menyita waktu, tenaga, dan pikiran, telah membuat diriku nyaris tak punya waktu untuk bisa sejenak berselancar di dunia maya.

Apalagi sinyal indosatm2 pun tak optimal di daerah Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri. Tiga kabupaten ini daerah pemilihanku (Jawa Tengah IV) sebagai caleg pusat (DPR RI) dalam pemilu 9 April 2009.

30 November 2008

Mungkin Tuhan Pun Bingung Menolong...



KETIKA pertama kali mengetahui saya "terpilih" menempati posisi ke-7 sebagai caleg DPR RI dari PDI Perjuangan, saya sempat menertawakan diri saya sendiri. Ungkapan yang saya pilih, dan saya katakan kepada sesama teman staf ahli di DPR, bisa jadi sangat sarkastis: Mungkin Tuhan pun bingung bagaimana harus menolong diri saya sebagai caleg....

Sebab, dengan nomor urut kedua dari bawah itu (dari total caleg 8 orang), saya merasa
tak cukup memiliki sumber daya yang bisa menjadi alasan bagi Tuhan untuk bisa menolong saya secara logis. Karena pertolongan Tuhan pun harus mengikuti sunatullah (natural law) atau hukum sebab-akibat yang rasional.


16 November 2008

Seorang Ibu yang Shalat di Pematang Sawah



SIANG ITU (Sabtu, 15 Nov 2008), saya tengah mencoba sepeda motor yang akan saya pakai mendampingi bos saya, anggota DPR RI Aria Bima, yang melakukan kunker (kunjungan kerja) di Solo, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, dan seputarnya. Ketika itu saya melewati kawasan industri di Desa Purwosuman, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Pada saat inilah saya menjumpai seorang ibu tengah duduk di pematang sawah, di bawah terik matahari sekitar pukul satu siang. Awalnya saya kira ibu itu sedang mencari rumput atau, maaf, buang hajat dengan sembarangan. Tapi ketika motor saya berada di jalan aspal bergelombang, tepat di belakang posisi duduknya, tiba-tiba badan saya merinding. Subhanallah (Maha Suci Allah), ibu itu rupanya sedang sembahyang...

09 November 2008

Menyoal Nama Tim Pembela Muslim


SEBAGAI Muslim, sudah sejak lama sebetulnya saya merasa sangat terganggu dengan nama Tim Pembela Muslim (TPM), yang dipakai para pengacara pelaku pemboman Bali I, Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Namun baru kali ini, sehari usai jenazah ketiga terhukum mati itu masuk liang lahat, saya sempat menuliskan kerisauan hati ini.

21 Oktober 2008

Ridwan Dalimunthe, Pedagang Kaki Lima Sahabat Saya



PERTAMA kali saya mengenal Ridwan Dalimunthe tatkala saya akan memulai kuliah di UGM Yogyakarta. Waktu itu saya baru saja kabur –betul-betul dalam arti melarikan diri—dari bangku kuliah saya di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Saya berada di Yogya karena tengah bersiap ikut ujian masuk UGM. 

27 September 2008

Nikmatnya Ramadhan di Kampung


SUBHANALLAH, melewati bulan Ramadhan di kampung sungguh nikmat. Apalagi setelah sekian lama kita terjerembab di tengah keruwetan, kemacetan, dan kesibukan sebuah metropolitan seperti Jakarta.

18 September 2008

Dari Mana Kita Hendak Memulai?



WHAT is to be done? Demikian kata Lenin dalam salah satu judul tulisannya. Apa yang harus kita kerjakan? Ya, kata-kata Lenin, mantan pemimpin komunis Uni Soviet, itu tiba-tiba saja berkelebat di kepala saya ketika suatu malam, tepatnya suatu dini hari, saya tak bisa juga tidur, dan akhirnya malah memaksa diri mengawali tulisan ini. Saya sendiri bukanlah pengagum Lenin. Akan tetapi judul tulisannya, yang simpel namun provokatif itu, menjadi mudah teringat oleh benak saya. 

17 September 2008

Sepi di Metropolitan


SATU hal yang membuatku acap merasa tak kerasan hidup di Jakarta ialah karena seringnya aku merasa sepi justru di tengah hiruk pikuk kota metropolitan ini. Perasaan itu muncul sejak pertama kali aku bekerja sebagai wartawan di kota ini beberapa tahun lalu, maupun sekarang ini tatkala aku sudah berganti profesi. 

Entahlah, aku nyaris selalu merasa sepi dan sendiri. Perasaan sepi itu kian mencekam justru ketika aku berada di tengah keramaian orang-orang. Di stasiun ketika menunggu kereta, di terminal ketika hendak naik bus, di kantor ketika ada kegiatan yang mengumpulkan banyak orang yang tak kukenal, maupun di dalam angkutan umum yang hampir selalu penuh dengan manusia yang berjubel itu. 

Pada saat seperti itu biasanya aku langsung teringat kalimat dalam novel Kuntowijoyo, Khotbah di Atas Bukit: “....apalah arti sebuah nama...aku hanyalah sebatang pohon di tengah rimba...”